Tim Jokowi-JK Bertemu Petani Garam

















Bumigaram,Sumenep- Usai penetapan KPU yang memenangkan pasangan Jokowi –JK sebagai Presiden dan Wakil Presiden  beberapa waktu lalu tidak membuat Tim Kampanye kemudian duduk dan berdiam diri. Mereka terus bekerja dan membuktikan kepada masyarakat bahwa  perjuangan belum berakhir. Seperti yang dilakukan oleh salah satu tim Jokowi-JK Zuhairi B. Misrawi yang bertemu perwakilan petani garam di Desa Karanganyar dan Pinggirpapas Kecamatan Kalianget . Pria yang akrab disapa Gus Mis ini hadir dalam acara “Serap Aspirasi Tim Jokowi Bersama Petani Garam”  Jum’at, 01/08/2014.
Dalam acara yang dihadiri puluhan perwakilan petani garam itu Zuhairi banyak mendapat usulan dan keluhan dari petani garam tentang  berbagai hal yang berkaitan dengan petani dan produksi garam.
“Selama ini kami sudah cukup mendapat janji, apakah pertemuan kali ini sama saja dengan yang lalu-lalu.??” Tanya seorang petani dengan nada pesimis.
Dengan mantap Zuhairi B. Misrawi menjawab bahwa kepemimpinan mendatang dibawah kendali Jokowi akan lebih responsif terhadap berbagai persoalan yang ada.
“Kami tidak main-main, orang-orang yang nantinya berada di jajaran kabinet adalah orang-orang muda yang siap bekerja dan siap turun kebawah. Percayalah bahwa Bapak Jokowi akan tetap blusukan kebawah untuk memastikan bahwa program yang dicanangkan benar-benar tepat sasaran.”
Selain menyerap aspirasi petani garam Zuhairi juga mengharapkan agar dalam Pilkada tahun depan 2015 petani dan warga Sumenep memilih pemimpin Sumenep yang mau turun dan mendengar langsung keinginan rakyat.
Lebih lanjut Zuhairi mengatakan bahwa kedepan Madura khususnya Sumenep wajib punya lembaga perguruan tinggi seperti Institut Pertanian Sumenep, Institut Kelautan Sumenep, dan juga SMK Garam yang fokus dalam pengembangan teknologi yang berkaitan dengan produksi garam. Selain itu tokoh muda NU dan kader PDIP kelahiran Kapedi Sumenep ini juga menyarankan agar masyarakat petani garam khususnya kaum mudanya berfikir tentang ekonomi kreatif untuk mengurangi pengangguran di musim hujan. (Aby)

“Demam Jakarta” Merebak di Desa Penghasil Garam




Ungkapan “Sekejam-Kejamnya Ibu Tiri, Lebih Kejam Ibu Kota” rupanya tidak berlaku bagi sebagian warga di kepulauan Sumenep yang meraup keuntungan dari kerja keras mereka di Jakarta. Awalnya hanya beberapa orang, namun lambat laun mayoritas wargapun mulai ketagihan untuk mengadu nasib ke ibukota. Tak heran jika sebagian besar warga di kepulauan Sumenep seperti Gili Raja, Gili Genteng dan Talango meningkat taraf ekonominya karena merantau ke Jakarta. Rumah-rumah mewahpun kemudian bermunculan di pulau-pulau ini. Tak cukup itu saja kendaraanpun bertebaran seperti mobil mewah dan juga motor keluaran terbaru yang harganya tergolong mahal.

Umumnya mereka bekerja sebagai pemilik dan penjaga toko dan warung-warung kecil di Jakarta yang menjual berbagai macam kebutuhan sehari-hari seperti sembako dan lainnya. Mereka tersebar di berbagai wilayah di Jakarta hingga Tangerang. Penghasilan mereka berkisar antara 6 hingga 9 juta perbulan. Jika omset perhari mencapai 2 hingga 3 juta, maka keuntungan mereka mencapai 10 %. Kabar kesuksesan orang-orang inipun akhirnya merambah sampai ke desa penghasil garam seperti Karanganyar dan Pinggirpapas. Ini bermula dari mereka yang suami atau istrinya adalah warga kepulauan seperti Talango. Warga yang merantau ini disebut oleh warga setempat dengan istilah “Jakartaan”. Jika ada orang yang mengobrol tentang “Jakartaan” maka yang terbayang adalah rumah mewah, mobil dan motor mewah, serta berbagai aset besar lainnya.

Fenomena “Jakartaan” ini mulai merebak di Karanganyar dan Pinggirpapas dalam beberapa tahun terakhir. Hingga saat ini puluhan warga Desa Pinggirpapas misalnya sudah berada di ibukota Jakarta untuk mengadu nasib. Warga desa Pinggirpapas yang umumnya bekerja sebagai petani garam mulai melirik untuk alih profesi sebagai penjaga warung di Jakarta. Memang menjanjikan penghasilan di Ibukota ini, bahkan mengalahkan gaji TKI yang bekerja di luar negeri seperti Malaysia. Biasanya warga yang bekerja ke Jakarta menitipkan anaknya kepada keluarga yang masih tinggal di desa, kecuali yang masih balita yang terpaksa harus ikut serta orang tuanya. Jumlah warga Karanganyar dan Pinggirpapas dipastikan akan terus bertambah banyak yang ke Jakarta dalam beberapa tahun kedepan. Tak heran jika musim kemarau Desa ini semakin lengang penduduknya. Maklum jika musim kemarau hampir separuh atau bahkan lebih warga dua desa ini merantau keluar daerah untuk menjadi petani garam.

Entah sampai kapan “magnet Jakarta” akan berhenti menyedot warga dua desa ini. Yang pasti selama penghasilan dari bekerja di Jakarta tetap menjanjikan, maka selama itu pula warga di Sumenep dan daerah lain di Indonesia akan terus mengalir ke Jakarta.

Sumenep, 16 Juli 2014

Memasuki Kemarau Ribuan Warga di Sumenep Mulai Meninggalkan Desanya





Sumenep- Hampir setiap malam sejak beberapa minggu lalu pemandangan tak biasa terlihat di Desa Pinggirpapas, Karanganyar dan beberapa desa lain di kecamatan Kalianget Kabupaten Sumenep. Truk besar berseliweran di desa-desa tersebut. Kendaraan ini sengaja di datangkan oleh beberapa ketua kelompok petani garam yang bekerja ke luar daerah. Seperti terlihat pada Senin malam, 16/06/2014 nampak “kloter” yang kesekian kalinya diberangkatkan dari “embarkasi“Pinggirpapas dan Karanganyar. beberapa warga terlihat sangat sibuk menaikkan barang-barang perlengkapan sehari-hari dan juga perlengkapan yang akan mereka gunakan untuk bekerja di tempat tujuan.
Setelah semua barang perlengkapan dinaikkan ke dalam truk, satu persatu warga ini naik ke dalam truk yang tertutup terpal. Mulai bayi yang berusia beberapa bulan hingga orang tua renta terlihat ikut serta dalam rombongan. Bayi  dan juga orang tua renta ini terpaksa ikut serta dalam rombongan mengingat di rumah mereka tak ada yang mengurus karena juga sudah berangkat bekerja ke luar daerah lebih dulu. Tak terkecuali anak yang masih dibangku sekolah, baik TK ataupun SD. Mereka juga terpaksa cuti dari sekolah karena ikut orang tuanya berangkat bekerja ke luar daerah. Di rantau anak-anak inipun harus merasakan teriknya matahari, dinginnya malam dan gigitan nyamuk liar.Isak tangispun mewarnai malam keberangkatan ini. Maklum hampir 6 bulan lamanya mereka akan terpisah jauh dari sanak saudara  hingga akhir musim garam.
Truk yang mengangkut barang dan orang ini berangkat ke berbagai daerah di Jawa Timur seperti Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Pasuruan dan berbagai daerah lain termasuk beberapa kabupaten di Madura. Pemandangan seperti ini memang sudah biasa terjadi setiap tahunnya di beberapa desa.  Umumnya mereka yang berangkat bekerja dengan sistem bagi hasil dilahan garam milik orang di luar daerah. Mereka terpaksa bekerja ke luar daerah untuk mencari penghidupan yang lebih baik mengingat keterbatasan lahan di desanya. (Aby)

Setelah Puluhan Tahun dibiarkan, Sungai Desa Pinggirpapas dikeruk




Pagi itu seperti biasa saya mau buang air besar ke sungai di pinggir kampung Senin,16/06/2014. Namun sesampainya di sungai saya melihat alat berat milik PT.GARAM (Persero) sedang mengeruk sungai yang berada di Dusun Dhalem Pinggirpapas.
Sebelum dikeruk sungai yang berada di desa Pingggirpapas ini memang sangat memprihatinkan. Selain faktor puluhan tahun tak pernah dikeruk, juga diakibatkan kebiasaan masyarakat setempat yang membuang sampah ke sungai. Ditambah lagi masyarakat setempat yang tinggal di pinggir sungai melakukan penimbunan di pinggir sungai untuk digunakan sebagai tempat tinggal. Alhasil sungai yang sudah dangkal semakin sempit saja hanya tersisa beberapa meter. Di beberapa titik ada yang lebarnya tinggal 1 sampai 2 meter saja. Lebih dari itu bau menyengat juga menjadi konsumsi masyarakat sekitar setiap hari.
Pengerukan ini disambut gembira oleh warga setempat, pasalnya mereka sudah lama menginginkan sungai mereka lancar seperti puluhan tahun yang lalu. Meskipun sempat beberapa kali warga Dusun Dhalem melakukan kerja bakti mengeruk sungai, tapi hasilnya tidak maksimal. Exavator  yang sepertinya milik PT.GARAM (Persero) ini dikawal oleh beberapa sekuriti dari PT.GARAM (Persero). Beberapa WC Sungai yang berdiri diatas sungai yang dilalui oleh exavator ikut dirobohkan untuk mempermudah proses pengerukan.
Sejumlah warga juga tampak menyaksikan langsung jalannya pengerukan ini. Warga juga berharap agar pengerukan ini bisa dilakukan secara berkala sehingga sungai di lingkungan mereka kembali seperti puluhan tahun lalu dan juga ada ketegasan pihak terkait agar tidak ada warga yang menimbun sungai untuk dijadikan pemukiman atau lahan garam.

Ratusan Warga Hadiri Peringatan Isra’ Mi’raj di Mesjid Al-Amien Karanganyar




Suarapinggirpapas, Sumenep -  Meski ditengah-tengah kesibukan kerja terutama bagi petani garam menjelang pergantian musim penghujan ke musim kemarau, tidak membuat warga Desa Karanganyar dan Pinggirpapas Kecamatan Kalianget lupa untuk memperingati peristiwa penting dalam Islam yaitu Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Bertempat di mesjid Al-Amien Desa Karanganyar Sabtu, 02/06/2014 acara berlangsung lancar.
Ratusan orang dengan khusu’ mendengarkan tausiyah yang disampaikan oleh Habib Jakfar Al-Jufri dari Kota Sumenep. Dalam pemaparannya Habib Jakfar menjelaskan beberapa hal diantaranya umat Islam adalah umat istimewa. Meski usia umat Nabi Muhammad tidak sama dengan umat Nabi-Nabi sebelumnya umat Islam akan masuk surga lebih dulu dari umat lainnya, bahkan diharamkan umat lain masuk ke surga sebelum umat Nabi Muhammad masuk. Tentu saja hal ini berlaku bagi umat Islam yang benar-benar tulus.
Selain itu Habib yang juga merupakan Wakil Ketua PCNU Sumenep ini juga menjelaskan pentingnya istiqomah. Suatu contoh orang yang membaca sholawat pagi dan sore akan mendapat syafaat Nabi. Habib Jakfar mengharap agar umat Islam bisa memanfaatkan 2 hal dengan baik yaitu waktu kosong dan kesehatan. Peringatan Isra’Mi’raj ini juga disemarakkan dengan penampilan Kumpulan Hadrah Al-Muhibbin yang berasal dari desa setempat. (Aby)

Test Footer

Diberdayakan oleh Blogger.

Test Footer 2